Memahami Tujuan-Tujuan Ibadah

Daftar Isi [Tampilkan]

 

Gambar: Qaf Media

Dalam sehari semalam, berapa kita melakukan shalat. Dalam seminggu, sebulan. Coba anda hitung sendiri. Jika satu hari saja lima waktu, berarti dalam satu bulan kita melakukan shalat sebanyak 150 kali shalat. Belum lagi ibadah-ibadah yang lainnya; haji, puasa, dan lain sebagainya. Sejatinya, semua ibadah-ibadah itu harus bukan sebatas rutinitas dan kewajiban belaka, melainkan sarat dengan nilai-nilai penting yang harus kita pahami.

Beribadah bukan sebatas aktifitas spiritual atas dorongan dari agama, tetapi lebih dari itu, ada nilai-nilai luhur yang perlu kita ketahui dan hayati. Agar ibadah kita lebih bisa dirasakan oleh jiwa. Sehingga akan menumbuhkan rasa tanang dan kebahagiaan bagi hidup.

Oleh karena itu, penting untuk kita baca salah satu karya Syekh Izzuddin bin Abbissalam, seorang ulama besar yang dijulluki sulthanul ‘ulama (pimpinan para ulama). Ia menuliskan risalah yang berjudul Maqashid Ibadah. Sebuah buku yang memuat tujuan-tujuan ibadah. Pentingnya membaca buku ini, agar kita beribadah tidak sebatas menggugurkan kewajiban, tetapi juga memahami nilai-nilai agung untuk kita pahami dan renungi bersama.

Tentang siapa Syekh Izzuddin bin Abbissalam, saya kira sudah masyhur catatan-catatan tentang beliau. Tidak perlu penulis jelaskan panjang lebar siapa sosok yang dijuluki pimpinan para ulama itu. Namun, tidak ada salahnya jika penulis singgung sedikit siapa Syekh Izzuddin itu.

Nama lengkapnya Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abu al-Qasim bin al-Hasan Muhammad  al-Muhadzab al-Sumi ad-Dimaasyqi asy-Syafi’i. Lahir di Damaskus tahun 577 H. Selain memiliki banyak guru terkemuka, Syekh Izzuddin juga memiliki banyak murid. Beliau juga memiliki banyak karya dalam bentuk tulisan. Dari sini, kita memahami bahwa Syekh Izzuddin adalah ulama besar yang produktif.

Salah satu karya tulis beliau yang cukup dikagumi adalah Maqashid Ibadah. Bahkan, risalahnya ini amat dikagumi oleh Sultan al-Malik asl-Asyraf. Sang Sultan sering menyuruh orang terdekatnya untuk membacakannya. Setiap kali orang terdekatnya datang, Sang Sultan memintanya untuk membaca risalah ini di hadapannya. Sang Sultan amat menyukainya dan berpesan agar orang-orang juga membacanya.

Buku ini terdiri dari tiga pembahasan. Yaitu pembahasan tentang intisari makna dan tujuan shalat, intisari makana dan tujuan berpuasa, dan intisari pelaksanaan ibadah haji.

Pada dasarnya, menurut Izuddin, tujuan semua ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dekat kepada Allah itu berarti dekat dengan kemurahan dan rahmat Allah yang hanya diberikan kepada para hamba-Nya.

Kedekatan kepada Allah itu ada dua macam. Pertama, kedekatan dengan ilmu (mengetahui), melihat, dan cakupan kekuasannya. Kedua, kedekatan dengan kemurahan dan kebaikan. Kedekatan pertama bersifat umum yang mencakup semua makhluk. Sementara kedekatan kedua bersifat spesial, hanya bisa dirasakan oleh hamba-hamba-Nya yang beriman. (hal. 19-20)

Mengenai shalat, Izuddin menjelaskan bahwa berdiri yang merupakan salah satu rukun shalat memiliki tujuan penghormatan kepada Allah Swt. Demikian pula rukuk dan sujud. Saat rukuk, posisi tubuh direndahkan daripada berdiri dengan posisi membungkuk 90%. Ini merupakan simbol penghormatan kita kepada Allah. Oleh karena itu, saat rukuk kita membaca,

سبحان ربي العظيم

Artinya: “Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung.”

Begitupun saat sujud. Posisi tubuh jauh lebih merendah. Bahkan, kepala yang merupakan posisi paling tinggi dari tubuh, direndahkan sampai menyentuh tanah. Ini merupakan bukti penghambaan total sekaligus wujud pengangungan kita kepada Zat yang maha agung. Dalam sujud pun kita membaca,

سبحان ربي الأعلى

Artinya: “Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” (hal. 36-37)

Kemudian, tentang ibadah puasa. Menurut Izuddin, ketika seseorang sedang berpuasa, hendaknya tidak hanya menahan diri dari makan dan minum. Tetapi juga ada hal-hal lain yang harus dijaga. Izuddin menyebutnya sebagai adab-adab dalam berpuasa. Ada enam adab berpuasa yang harus orang Mukmin lakukan.

Pertama, menjaga lidah dan anggota tubuh dari perbuatan menyimpang. Kedua, apabila seorang berpuasa, kemudian dalam kondisi puasa (sunah), hendaknya ia mengutarakan dengan berkata, “Aku sedang berpuasa.”, Ketiga, doa yang dibaca saat berbuka puasa adalah sebagai berikut,

ذهب الظأ و ابتلت العروق و ثبت الأجر إن شاء الله

Artinya: “Dahaga telah sirna, urat-urat telah basah, dan pahala sudah pasti, insya Allah.”

Keempat, makanan saat berbuka puasa adalah dengan kurma basah. Jika tidak ada maka kurma kering. Jika tidak ada lagi, maka dengan air putih. Kelima dan keenam, menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Izuddin juga menjelaskan fadilah berpuasa, hal-hal yang harus dijauhi saat berpuasa, berburu Lailatul Qadar, dan lain-lain. (hal. 92-98)

Selanjutnya, tentang ibadah haji. Izuddin menjelaskan adab bepergian, mengqashar shalat bagi musafir, tayamum, ihram, larangan dalam ihram, fidyah, ihram bagi perempuan, memasuki mekah dan tawaf di Baitul Haram, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah, melontar jumrah aqabah, mabit di Mina, rukun haji, wajib haji, sunnah haji, keluar dari Makkah, umrah, dan ziarah makam Nabi Muhammad Saw.

Rasanya tidak mungkin penulis uraikan semua dalam tulisan yang pendek ini.

Membaca Maqashid Ibadah karya  Syekh Izzuddin bin Abbissalam, akan membuat kita lebih cerdas dalam beribadah. Bukan rutinitas spiritual dan menggugurkan untuk kewajiban belaka. Tetapi memamahi detail setiap ibadah dan komponen-komponennnya. Sehingga mampu menjiwai ibadah dengan maksimal. Hati pun menjadi tentram dan bahagia.

Identitas buku:

Judul: Maqashid Ibadah

Penulis: Syekh Izzuddin bin Abbissalam

Penerjemah: Kaserun AS. Rahman

Penerbit: PT Qaf Media Kreativa

Cetakan: I, Maret 2021

Tebal: 191 halaman

ISBN: 978-602-5547-97-3

 

Peresensi adalah Muhamad Abror, Mahasantri Mahad Aly Saiidusshiddiqiyah Jakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1


Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel