Latihan Bersyukur untuk Hidup Berkah dan Makmur

Daftar Isi [Tampilkan]

Sumber gambar: Qaf Media Kreativa

Terkadang, kita lupa betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan untuk kita. Mulai dari setip anggota tubuh yang kita miliki, masih diberi rizki makanan setiap hari, keimanan yang Allah anugerahkan, kesehatan yang Allah limpahkan, dan banyak lagi, semua itu adalah bukti kebaikan Tuhan yang tidak ternilai oleh apapun. 

Hanya saja, sering kita lalai untuk mensyukurinya, atau bahkan hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah sebagai pujian dan ucapan terimakasih kepada Allah Swt.

Adalah buku “Rasakan Kekuatan Alhamdulillah” karya Khalilel Anwar, mengajak kita untuk latihan bersyukur agar hidup lebih berkah dan makmur. Melalui buku ini, Khaliel Anwar mengajak kita untuk mendalami dan menghayati hakikat bersyukur. Kata “syukur” memang mudah diucapkan, tapi dalam praktiknya sering mengalami  kesulitan.

Beryukur merupakan ajaran bagi semua agama. Karena pada dasarnya, bersyukur adalah cara pemeluk agama berterimakasih kepada Tuhan. Di Buddha kita kenal dengan amiin taba. Di penganut Zoroaster, sembari mereka meratapi api, mereka membaca puji Tuhan. Di Islam, juga dikenal istilah bersyukur, baik dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan. (hal 7)

Bahkan, semua yang ada di alam raya ini sejatinya bertasbih dan bersyukur. Menggemakan alhamdulillah. Dalam al-Qur’an, Allah swt berfirman,

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (al-Isra’ [17]: 44)

Bersyukur merupakan hal yang sangat penting. Alasannya, Allah telah mencurahkan nikmat kepada kita. Tiada henti-hentinya. Bahkan, ketika kita sedang mengeluh pun, Allah tidak pernah bosan untuk memberi. Ibarat sebuah mentari yang slelalu menyinari, ia akan tetap bersinar kendati ada saja orang yang mengeluh karena teriknya. (hal 15)

Posisi kita tidak selamanya seperti ini. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Kadang untung, kadang pula merugi. Kadang tertawa, kadang pula menangis. Kondisi-konsdisi yang tidak stabil ini akan membuat kita sulit untuk bersyukur. Terlebih jika kesulitan yang datang. Pasti mengeluh, mengeluh dan mengeluh.

Namun, tenang saja. Hal di atas masih bisa disiasati.

Saat kita tertimpa musibah, harus kita tanamkan dalam hati yang paling dalam bahwa musibah ini sudah kehendak Yang Mahakuasa. Ingat, apa yang Allah kehendaki sudah pasti sebuah kebaikan untuk kita semua. Mungkin, musibah itu terasa berat, tapi Allah telah rencanakan kejutan yang luar biasa sesuai rencana-Nya. (hal 68)

Saat kita sedang diberi banyak kenikmatan oleh Allah Swt., bersukurlah. Jangan biarkan perasaan kurang tersimpan dalam hati kita. Karena tidak sedikit orang yang diberi banyak nikmat, tapi lupa untuk mensyukurinya. Keluhan demi keluhan terus membelenggu dirinya. Padahal, dengan bersyukur, nikmat akan bertambah nikmat. (hal 69)

Ketika kita sedang dalam ketaatan, sadarilah bahwa ketaatan bukan dari usaha sendiri. Ketaatan kita merupakan pertolongan dan rahmat dari Allah. Maka bersyukurlah kepada Allah yang telah memberikan semua itu. Di luar sana, masih banyak orang yang belum meraasakan nikmatnya ketaatan. Kita yang telah dianugerahi itu, sudah selayaknya bersyukur kepada Allah Swt. (hal 70)

Dalam bukunya, Khaliel menyebutkan banyak sekali keutamaan bersyukur. Di antaranya adalah menumbuhkan sifat ridha. Orang ang beryukur, berarti telah menerima semua kehendak Allah. Tanpa protes dan keluhan apapun. Rasa ridha lebih utama dari rasa sabar.

Jika sabar bisa selamat dari siksa api neraka, tapi dengan ridha, orang akan memperoleh balasan surga.

Termasuk keutamaan yang diperoleh dari rasa syukur adalah menghapus jejak derita. Ketika seseorang dalam kesedihan, sejatinya dirinya lah yang menciptakan kesedihan itu sendiri. Hatinya dipenuhi dengan ketidakpuasan dan rasa kurang bersyukur. Oleh karena itu, mulailah mensyukuri apapun yang terjadi.

Penderitaan dan kesedihan itu ibarat awan gelap yang menghalangi mentari bersinar terang. Ketika seseorang bersyukur, ia telah menyingkirkan awan gelap itu, dan mentari kembali bercahaya dengan riangnya.

Bersyukur juga mampu mendatangkan kemakmuran. Pada dasarnya, orang yang bersyukur sedang memproduksi energi positif dalam dirinya. Akibat energi positif itu, maka hal-hal positif yang lain akan mendekat karena ada persamaan frekuensi.

Keajaiban selalu terlahir dari syukur. Ketika syukur telah mengisi jiwa, semua kenyataan terasa hanya pembahagia saja. Tak ada derita yang akan menghinggapi, apalagi menggoncang jiwa. Kebahagiaan itu berhimpun di hati yang penuh syukur.

Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan bersyukur yang dijelaskan dalam buku “Rasakan Kekuatan Alhamdulillah”. Rasanya, tidak mungkin jika penulis sebutkan dan jelaskan satu persatu dalam tulisan yang singkat ini.

Pada akhirnya, buku yang disajikan dengan bahasa sederhana tapi tetap berbobot ini, sangat menarik untuk becaan santai dan menyelami hakikat bersyukur secara mendalam.

Identitas Buku:

Judul: Rasakan Kekuatan Alhamdulillah

Penulis: Khaliel Anwar

Penerbit: PT Qaf Media Kreativa

Cetakan: I, Oktober 2018

Tebal: 291 halaman

ISBN: 978-602-5547-31-7


Peresensi adalah Muhamad Abror, mahasantri Mahad Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta

 

  

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1


Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel